Gresik- Tradisi ngunduh manten di
Indonesia
ada berbagai macam ragam dan keunikan.yang perlu dilestarikan. Salah satunya
tradisi ngunduh manten di Kabupaten Gresik dengan kesenian khasnya yakni Pencak
Macan.
Diawali, harimau atau Macan,
moyet, genderuwo serta dedemit lainnya, menghadang di depan pintu rumah mempelai
perempuan. Tak pelak, mempelai laki-laki tidak bisa masuk. Untuk itu, keluarga
mempelai pria melakukan gebyokan daun kelor dengan tujuan mengusir para
sasangkolo da dedemit. Akhirnya, semua sasangkala semburat melarikan diri dan
kedua mempelai bisa duduk bersanding di pelaminan.
Demikian prosesi manten adat
Gresik dqalam pembukaan acara Pagelaran Budaya Manten Adat Gresik yang di
selenggarakan DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Gresik yang
berlangsung di Wahana Kreasi Tlogodendo (WKT), kemarin.
Acara bertajuk Gresik Cultural
Wedding 2012 dengan tema jadikan adat budaya pengantin dalam citra dan karakteristik
masyarakat Gresik tersebut, juga diisi dengan lomba rias pengantin muslim dan
peragaan busana muslim anak.
Sementara itu, Bupati Dr Sambari
Halim Radianto dalam sambutan kegiatan tersebut mengakui Gresik sebagai kota
santri memiliki aneka ragam budaya.
“Keanekaragaman budaya Gresik bagaikan
butir-butir permata yang tak ternilai harganya. Karena, kebudayaan daerah
merupakan identitas dari suatu peradaban,”ujarnya.
Ditambahkan, warga Gresik selayaknya
melestarikan dan menjaga menjaga keluhuran budaya yang ada supaya tidak tergeser
oleh nilai-nilai budaya asing. Apalagi, era globalilasi dan kemajuan teknologi
informasi, budaya sudah menembus lintas batas.
Budaya daerah dapat membesarkan
nama daerahnya dengan menghargaai serta melestarikan yang telah diwariskan oleh
para leluhur, khasanah Budaya Gresik merupakan potensi daerah untuk dapat di
kenal oleh masyarakat luas.
“HARPI sebagai organisasi profesi
mempunyai tanggungjawab moral untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya
bangsa dalam menunjang potensi pariwisata. Pesan saya agar HARPI dalam
merumuskan budaya manten adat Gresik agar melibatkan para kiai, tokoh
masyarakat, budayawan sehingga bentuk yang dihasilkan menjadi lebih dapat di
terima oleh norma dan ketentuan yang ada di daerah ini,”pungkasnya. (sho)



Posting Komentar