Headlines News :
Home » » Pasien Gakin Diterlantarkan Hingga Meninggal

Pasien Gakin Diterlantarkan Hingga Meninggal

Written By gresik satu on Rabu, 24 April 2013 | Rabu, April 24, 2013

GRESIK-Pelayanan diskriminatif harus diterima pasien dari keluarga miskin (Gakin) yang menjadi kepesertaan jaminan persalinan (Jampersal) di RSUD Ibnu Sina.
Pasalnya, pasien Gakin diterlantarkan tanpa mendapat pelayanan yang maksimal. Akibatnya, pasien gakin meninggal dunia.
Fakta tersebut dialami keluarga gakin, Agus Budiyanto (24) warga Desa Gading RT. 03 RW.01 Kecamatan Driyorejo.
Pekerja swasta tersebut harus merelakan kehilangan istrinya, Diah Agustin Dewi Lestari (20) beserta janin dalam rahimnya yang meninggal dunia di RSUD Ibnu Sina. Diduga, penyebabnya karena keterlambat petugas medis dalam menangani pasien gakin yang menggunakan Jampersal.
Untuk itu, Agus Budiyanto dengan diantar bibinya Sunarsih (35) warga Desa Tenaru Kecamatan Driyorejo wadhul ke F-PDIP, Rabu (23/04).
Keduanya diterima oleh Wakil Ketua F-PDIP Mujid Ridwan yang juga Wakil Ketua Komisi D DPRD Gresik.
Agus menceritakan, awalnya pada Kamis (18/4) sekitar pukul 10.00 WIB, istrinya yang usia kehamilannya menginjak 9 bulan mengeluh karena kakinya mengalami pembengkaan hingga tidak dapat berjalan.
Langsung saja, dibawa oleh Agus Budiyanto ke bidan desa bernama Suwenti. Ternyata, Diah Agustin Dewi Lestari sudah hampir melahirkan. Tanpa membuang waktu, Bidan Desa Suwenti merujuk ke rumah sakit.
"Tanpa koordinasi dengan keluarga, langsung dirujuk ke RSUD Ibnu Sina. Padahal, biasanya warga di Driyorejo yang hendak melahirkan dirujuk ke rumah sakit yang ada di Wiyung Surabaya,"tuturnya.
Sampai di RSUD Ibnu Sina, Diah Agustin Dewi diperiksa di IGD oleh dokter jaga. Kemudian, dirawat di kamar bersalin tepatnya di ruang observasi.
Disitu, Diah Agustin Dewi Lestari mendapat perawatan dengan diberi infus dan diperiksa detak jantungnya. Ironusnya, dia dibiarkan saja tanpa ada tindakan media dibawah kontrol dokter sampai Sabtu (20/4). Padahal sejak awal korban sudah mengalami pembukaan satudalam proses melahirkan. Bahkan, tanpa pengawasan dokter, pasien diberikan obat pendorong kelahiran oleh perawat.
"Sejak itu, istri saya mengeluh sesak dadanya. Bahkan, teras mau muntaj. Meski sesak nafas, dibiarkan oleh perawat disitu sampai larut malam. Akhirnya, sekitar pukul 01.00 WIB, saya memanggil perawat yang semestinya mengecek pukul 19.00 WIB. Eeh, pearwatnya malah tidur. Baru pada Sabtu (19/04) ada dokter yang viste. Katanya kondisinya bagus. Tapi, setelah itu istri saya sesak napasnya sampai Minggu (21/04) pagi juga dibiarkan saja," kata Agus dengan jengkel.
Kemudian, perawat memasang selang oksigen di dinding karena sesak nanfasnya cukup parah. Celakanya, dan oksigen tidak aktif.
Lalu, pihak keluarga meminta diganti dengan tabung. Lagi-lagi dipersulit karena pasien menggunakan program jampersal. Akhirnya, pihak keluarga korban menyetujui membayar dan pihak rumah sakit mengganti oksigen tabung.
Kendati begitu, masih kata Agus, pihak rumah sakit membiarkan istrinya dengam alasan kondisinya normal. Padahal, korban nafasnya sesak dan proses persalinan tidak berubah masih pembukaan satu. Akhirnya, kekhawatirannya terbukti, karena Diah Agustin Dewi Lestari mulai kejang-kejang sekitar pukul 11.30 WIB. Hal itulah mendasari keluarga meminta untuk dilakukan operasi caesar. Namun lagi-lagi dipersulit, meminta status pasien jampersal dicabut.
"Kami sepakat mencabut dari kepesertaan Jampesal dan menjadi pasien umum meskipun membayar sendiri asalkan pelayannya bagus, tapi tetap tidak boleh. Meski sebenarnya kami mengajukan caesar sejak dari awal. Pihak rumah sakit menganggap tidak perlu operasi caesar. Akhirnya istri saya meninggal," beber Agus sambil menunjukkan foto kenangannya bersama almarhumah istrinya.
Untuk itu, Agus beserta bibinya meminta pertanggung-jawaban RSUD Ibnu Sina. Karena pihaknya merasa ditelantarkan hanya karena menggunakan program jampersal. Selain itu, pihak rumah sakit menolak saat pihak keluarga mencabut perawatan di RSUD Ibnu Sina untuk dipindahkan ke rumah sakit lain.
"Kami berharap lewat anggota dewan kami meminta keadilan," pintanya.
Menyikapi pengaduan tersebut, Mujid Ridwan berjanji secepatnya melaporkan ke pimpinan untuk dilakukan klarifikasi. Diantaranya memanggil bidan desa, pihak RSUD Ibnu Sina dan Dinas Kesehatan.
"Kami sering mendapat pengaduan perawatan warga miskin di Gresik selalu dianak-tirikan," tukasnya.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Ibnu Sina dr Endang Puspitowati yang dikonfirmasi wartaean mengelak hal itu. Menurutnya, semua prosedur medis sudah dilakukan sesuai ketentuan.
"Justru pihak keluarga korban yang memberi minuman obat di luar ketentuan rumah sakit. Setelah diberi minum obat itu, pasien muntah,"ujarnya. (sho)

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : coba ku banyangkan | gresik-satu template | gresik-satu template
Copyright © 2011. gresik-satu - Oke 86
Perubah Template Oleh gresik-satu.blogspot.com Publikasi oleh gresik-satu.blogspot.com
Kekuatan oleh gresiksatu