GRESIK-Prosesi penobatan Prabu Satmoto atau Sunan Giri pada
525 tahun silam, coba di rekonstruksi kembali dalam rangkaian Hari Jadi Kota
Gresik ke 525 yang berlangsung di Situs Giri Kedaton. Perhelatan drama kolosal
ini mengikutsertakan Muspida, tokoh masyarakat dan semua pejabat Pemkab Gresik
dan masyarakat sekitar Giri Kedaton.
Sejarahwan Gresik, KH. Muchtar Djamil menjadi
sutradara sekaligus penulisan script
serta narasi hingga hal paling detail untuk menghadirkan suasana pada prosesi penobatan Prabu Satmoto (Sunan Giri)
pada 9 Maret 1487 silam.
Misalkan pemasangan penjor dan jumlahnya, KH Muchtar
menentukan titik-titik penempatannya. Selain itu, syarat lainnya yakni dilokasi
Giri Kedaton hanya boleh dipasang hiasan penjor Janur. Hiasan Penjor Janur itu
sebanyak 7 pasang.
Tempatnyapun sudah ditentukan, yaitu ujung gang masuk
Sunan Giri, Gang Masuk menuju Giri Kedaton, ujung tangga naik (masuk) bagian
bawah, trap keluar (turun) masjid, ujung tangga turun (keluar) bagian atas dan
bagian bawah, ujung gang keluar menuju Sunan Giri.
Dalam drama ini, Bupati Dr. Sambari Halim Radianto
memerankan tokoh Sunan Giri, Wakil Bupati, Drs. Mohammad Qosim, M.Si memerankan
Syeh Gerigis. Kedua tokoh ini mengenakan jubah berwarna putih dan surban putih
untuk penutup kepala. Mereka juga mengalungkan kain surban masing-masing
berwarna kuning gading dan putih. Sedangkan Sekda Ir. Moch Najib yang
memerankan Syeh Kudjo memakai jubah warna hitam.
Seperti yang telah diatur oleh Kyai Muchtar. Wabup dan
Sekda dalam perannya memakai (nyengkelit) keris didepan dan membawa tasbih.
Tidak demikian dengan Bupati yang memerankan Sunan Giri.
“Keris, tasbih dan tongkat diserahkan saat penobatan
sebagai tanda telah resmi penobatan Joko Samudro -nama kecil Sunan Giri-red
menjadi Prabu Satmoto,”jelas Muchtar Djamil.(sho)


Posting Komentar